Sejarah Ringan Lalu-lintas Indonesia.

Siang itu jadilah kami bertiga (Saya, Pak Let.Kol.Polisi Baedhowey, Pak Yakub Abdullah , Bogor ). Untuk berangkat menjenguk Mas Idham Suganda (Mubaligh Bogor) yang sedang sakit di rumahnya di Sukabumi. Saya kebetulan yang menyetir mobil. Sambil menceritakan perjuangan agama, membahas beberapa hukum-hukum Islam, dan juga membahas hukum-hukum lalu lintas dan sejarah-sejarah ringan masalah lalu lintas, dimana Pak Baedhowey adalah ahlinya karena beliau adalah seorang polisi, dia sering juga menjadi Instruktur sekolah dan Training di instansi kepolisian. Beliau bertanya kenapa Nomor polisi Jakarta itu dikode dengan huruf “B” kok tidak huruf “J”? Inilah jawaban beliau sendiri…

1. Mengapa Nomor Polisi Jakarta itu di kode dengan Huruf “B”?

Penggunaan tanda nomor kendaraan bermotor di Indonesia, terutama di Jawa, merupakan warisan sejak zaman Hindia Belanda, yang menggunakan kode wilayah berdasarkan pembagian wilayah karesidenan. Awalnya tidak ada orang Indonesia yang memiliki mobil. Dan biasanya orang-orang Indonesia yang kaya adalah orang yang tinggal disekitar pelabuhan, mereka biasanya adalah saudagar nasional dan internasional, yang kedua adalah orang-orang yg menjadi juragan perkebunan, sebagai “ndoro” perkebunan tidak heran bila uang mereka banyak. Sampailah saatnya orang kaya pertama di Indonesia memiliki mobil, dan orang pertama tersebut adalah orang Banten (pelabuhan) maka mobilnya di beri kode “A”. diikuti nomor. nantinya bila ada orang Banten yg punya mobil tinggal nomornya saja yg diberi nomor urutannya, tetapi kode awalnya tetap “A”. Selanjutnya orang Batavia (betawi, pelabuhan) yang membeli mobil, sesuai urutan abjad, maka mobil orang ini oleh pemerintah Belanda di beri kode “B” diikuti nomor .., selanjutnya semua mobil duta dan consul diberi kode C yg saat ini menjadi CD. Kemudian seorang “ndoro” perkebunan di Bandung membeli mobil maka di kode “D”, orang kaya Cirebon (pelabuhan) juga kemudian beli, maka “E”, orang kaya Bogor (perkebunan) juga beli, maka “F”, orang kaya Pekalongan (pengusaha kain) kemudian beli, maka “G”, orang kaya Semarang (pelabuhan) juga beli mobil, maka nomor polisinya “H”. dst…

Kira-kira apa yang kita pikir tentang Huruf “Z” (Tasik) dan kota-kota yg sudah tidak kebagian abjat alphabet tunggal? seperti AA (Kedu), AB (Jogya). Apakah mereka adalah orang-orang kaya belakangan? belum tentu karena “Z” untuk Tasik adalah hasil modifikasi kepolisian belakangan ini. termasuk “W” untuk Jombang yg sebelumnya menggunakan “L” juga, sama dengan Surabaya. Tetapi sebagian besar memang menggambarkan urutan orang-orang yg “berhasil kaya” di Indonesia. (ha..ha..ha.., untuk orang – orang yang nomor polisi mobilnya dua huruf, Peace… ah, he.. he.. he..)

2. Mengapa Jembatan2 jalan raya buatan Belanda, tahan lama?

Sebenarnya konstruksinya hampir biasa-biasa saja, tetapi Belanda merancang jembatan, bagaimana mobil yg akan melaluinya bisa pelan-pelan. Maka jalan masuk jembatan dan keluar jembatan itu harus dibuat menikung, bila perlu malah menikung tajam 90 derajat agar kendaraan mau-tidak mau mengerem kendaraannya. Alhasil mereka masuk ke jembatan dengan pelan-pelan, keluar jembatan pun mereka pelan-pelan karena jalan masih menikung. Akhirnya jembatanpun menjadi awet. Bahkan ada yg tahan 100 tahun lebih. Bandingkan dengan jembatan-jembatan buatan setelah itu.

3. Mengapa Jarak antar kota di Jawa rata-rata ± 60 km?

Perhatikan: Jakarta – Bogor ± 60 km, Bogor – Sukabumi ± 60 km , Sukabumi – Cianjur ± 60 km, Cianjur – Bogor ± 60 km, Cianjur – Bandung ± 60 km, Bandung – Garut ± 60 km, Garut – Tasik ± 60 km, Rangkasbitung – Banten ± 60 km dst. (atau sekitar 60 an lah.he..he.. peace.). Mengapa 60 km? Karena Pemerintah Belanda saat itu merancang jarak kota, juga mempunyai peri-kehewanan, yaitu memikirkan kuda. Kuda standard itu setelah berjalan 60 km perlu istirahat besar (beda dengan kuda modif, he.. he.. he..), yaitu makan dan minum dan istirahat cukup. Nah untuk bisa minum dan makan, sebaiknya ditempat itu sudah ada daerah yg dihuni manusia, sehingga biasanya ada sumur, ladang, lapangan, alun-alun sehingga tersedia air dan rerumputan yg bisa disabit untuk si kuda.

4. Mengapa mobil tanpa hidung / moncong dibuat. (Carry, Zebra, Espass dsb.)

Mobil dengan hidung (bagian mesinnya didepan), sebenarnya lebih nyaman dan lebih aman dari pada mobil tanpa hidung (bagian mesinnya dibawah jok pengemudi), mengapa? kedua jenis mobil ini, dengan kecepatan yang sama bila terjadi tabrakan frontal maka tingkat melukainya thdp pengemudi akan lebih parah yg tanpa hidung, dan biasanya menggencet si pengemudi. Berbeda dengan mobil yg punya moncong. Sebagian dari sedan Honda bahkan telah didesign mengurangi impact orang yang ditabrak juga. Mobil-mobil berhidung zaman dulu umumnya bumpernya full besi, sehingga orang yang tertabrak saat kecepatan diatas 45 km/jam bisa meninggal. Pada saat pemerintahan Jepang masih berkuasa di Indonesia, banyak orang Indonesia yang mengemudikan kendaraan mengantuk, hal ini banyak menimbulkan kecelakaan. Mobil menabrak rumah, pohon bahkan menabrak orang yg sedang berjalan di tepi jalan. Disinyalir penyebabnya adalah suasana kabin yang cukup senyap, nyaman, tidak panas, karena mesinnya didepan, ditambah lagi pada saat itu si pengemudi banyak yang kekurangan gizi yg berakibat saat mengemudikan kendaraan sering mengantuk, maklum zaman penjajahan, kebutuhan gizi amatlah kurang. Para petinggi Indonesia saat itu akhirnya mengusulkan kepada pemerintahan Jepang agar mendesain mobil yang tidak mudah membuat ngantuk, yaitu yang tidak nyaman, taruh saja mesinnya dibawah pengemudi. Para engineer Jepang terheran-heran dengan usulan ini. Tapi rancangannya tetap diselesaikan. Jadilah saat itu mobil dengan mesin di bawah pengemudi, agar berisik, tidak nyaman, dan yg “hot” lagi adalah di bawah pengemudi ada pemanas. jadi deh supirnya pada melek. Kalau masih ada yang mengantuk ya memang bawaan bayi kali ya. Juga sang supir mikir terus “mobil ini tidak ada moncongnya kalau nabrak aku bisa gepeng” (qodar ya.), setidaknya ini membuat mereka terjaga saat mengemudi.

Saat ini banyak sekali mobil tanpa moncong berkeliaran di jalan raya, bahkan bisa dikatakan juga mobil rakyat. (Untuk penggemar mobil tanpa moncong, peace ah..).

Inilah sebagian yg saya bisa tangkap dari obrolan dengan Pak Let.Kol. Baedhowey. dan tidak terasa kami sudah memasuki daerah sukabumi, sebentar lagi kami akan tiba dirumah Mas Idham Suganda. Dengan sejarah kadang kita bisa mengenali sesuatu lebih baik. Untuk itu kenalilah sejarah dirimu, keluargamu, juga jangan lupa… sejarah. QHJ

Wassalam. Oleh : Luthfi

Iklan

2 Tanggapan

  1. info yg menarik pak.

  2. bos, terimakasih postnya,,,,,,,,,,,,

    kunjungan sore.,.,
    kunjungan balik donx

    makasihh….

    tukeran link mau gag???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: